Obat Dan Suplement Untuk Penambah Imun Pada Penderita HIV

TERAPHY HIV HERBAL TRADISIONAL

WhatsApp 0813-1111-0910

HALAL TANPA EFEKSAMPING LULUS UJI BPOM DAN CPOTB

Obat Dan Suplement Untuk Penambah Imun Pada Penderita HIV

Obat Dan Suplement Untuk Penambah Imun Pada Penderita HIV

Obat Dan Suplement Untuk Penambah Imun Pada Penderita HIV ~ Salam Sehat De Nature. Bicara HIV tidak terlepas dengan obat dan suplement. Ini dikarenakan HIV menyerang sistem kekebalan tubuh sehingga untuk memeprtahankan imunita tubuh supaya tetap dibatas normal ODHA harus memiliki asupan nutrisi dan gizi yang cukup da seimmbang. Salah satu Penggunaan Suplement adalah sebagai bahan pengganti komponen nutrisi yang diperoleh dari makanan. Sebagai contoh, penggunaan suplemen protein sebagai pengganti konsumsi makanan berprotein, atau penggunaan suplemen mineral sebagai pengganti konsumsi sayur dan buah. Hal ini disebabkan karena tidak setiap orang terutama mereka yang tinggal di daerah perkotaan memiliki kesibukan yang padat dan sangat sedikit waktu yang mereka luangkan untuk peduli dengan variasi makanan meraka. Celakanya, mereka juga cenderung untuk mengkonsumsi makanan siap saji yang praktis tapi bernilai gizi rendah. Sehingga banyak diantara mereka malah mengambil jalan pintas pemenuhan asupan vitamin dan mineral dengan mengkonsumsi suplemen multivitamin. Lantas apakah kebiasaan ini jelek? Hal ini TIDAKLAH salah, namun sebenarnya konsumsi suplemen multivitamin pastinya memakan biaya yang tidak sedikit. Penggunaan suplement selain untuk pencegahan penyakit, Penggunaan suplemen juga dimanfaatkan untuk mengurangi resiko terjadinya penyakit.
Fungsi Teraphy Herbal De Nature :
> Membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh.
> Membantu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat penyakit HIV
> Membantu melawan virus HIV sehingga virus tidak terus berkembang
> Membantu Menghilangkan jamur dilidah dan area mulut
> Meningkatkan CD4 secara cepat
> Menambah Nafsu makan
> Menjaga kesehatan dan kebugaran
> Mengurangi demam,diare dan keringat dingin dimalam hari
20 Gejala HIV Dan Cara Mengobatinya ~ Perkembangan penyakit HIV AIDS bisa di hambat dengan menggunakan obat-obatan antiretroviral (ART/ ARV). Tapi, dari sekian banyak orang yang terjangkit oleh HIV, terapi obat tersebut bukan sebuah pilihan yang pas. Karena, biaya yang di keluarkan ART/ARV untuk 1 orang bisa mencapai lebih dari Rp. 150 juta /Tahun. Yang mana hal tersebut tentunya amat jauh di luar kemampuan dari sebagian besar orang yang sudah terserang oleh HIV. Selain itu ART / ARV juga mempunyai banyak efek samping yang membuat ODHA malas minum obat tersebut.Nah, untuk itu bagi Anda yang sudah terlanjur terinfeksi HIV AIDS, jangan khawatir dan berputus asa, karena para peneliti pakar ilmu kedokteran sudah menemui jalan keluar untuk menyelesaikan masalah ini. Yaitu, dengan menggunakan Tanaman Herbal Tradisional Ampuh berikut ini :
SAMBILOTO ( Andrographis Paniculata )
Sejumlah pakar berhasil menemukan setidaknya ada jenis tumbuhan yang mampu bekerja menghambat perubahan virus HIV menjadi AIDS.Ketua Klinik VCT Rumah Sakit Prof Dr Margono Sukarjo (RSMS) Banyumas dr Akhmad Wiryawan mengatakan, menurut penelitian yang dilakukan pakar luar negeri, tanaman sambiloto dan meniran memiliki khasiat untuk meningkatkan kekebalan tubuh dalam menghadapi berbagai serangan penyakit termasuk HIV/ AIDS.Selain itu, kedua tanaman tersebut memiliki kemampuan mencegah virus HIV menjadi dewasa, masuk ke sel tubuh dan berkembang biak. “Kegunaan itulah yang harusnya dilihat masyarakat khususnya pengidap HIV/AIDS, sebagai solusi alternatif obat konvensional buatan pabrik.Populasi kedua tanaman itu juga sangat banyak di Indonesia, bahkan keberadaannya selama ini hanya dipandang sebelah mata sebagai tumbuhan pengganggu,” papar Akhmad Wiryawan kepada KR di ruang kerjanya baru-baru ini.Dijelaskan, pengidap HIV/ AIDS kebanyakan menggunakan obat konvensional, yakni Antiretroviral (ARV). Namun obat ini mempunyai efek samping bagi penggunanya, yakni mempengaruhi pencernaan, alergi kulit, terganggunya fungsi organ tubuh, serta tidak bisa dicampur dengan sembarang obat.“Sebagai obat buatan pabrik dan memiliki kandungan kimia sintetis yang tinggi, otomatis ARV mempunyai efek samping, sehingga pengguna tidak merasa nyaman. Selain itu harganya mahal dan sering terkendala pasokan karena masih diimpor. Berbeda dengan meniran dan sambiloto yang alami dan murah. Selain khasiatnya sama, penggunaannya tidak menimbulkan efek samping,” ujar Akhmad.Ditambahkan, proses pengolahan meniran dan sambiloto hingga siap dikonsumsi sebagai obat penghambat HIV/AIDS cukup mudah dan bisa dilakukan semua orang. Antara lain dengan memasak tumbuhan itu dan meminum air rebusannya, atau membuatnya menjadi jus.“Prosesnya memang mudah, namun agar hasilnya maksimal, terapi harus dilakukan secara teratur setiap hari minimal sekali. Jika dilakukan secara teratur, dalam jangka waktu tiga bulan hasilnya terlihat dengan naiknya tingkat kekebalan tubuh, dan itu sudah terbukti,” tandas Akhmad. Sambiloto Si Pahit Berkhasiat Selangit Sambiloto banyak di temukan di daratan Asia. Selain Indonesia, sambiloto juga terdapat di India, Filipina, Vietnam dan Malaysia. Tanaman yang bernama latin Andrographis Paniculata Ness ini dapat hidup subur di daerah tropis dengan ketinggian antara 1- 700 meter diatas permukaan laut.Sambiloto merupakan tanaman semak yang mempunyai banyak cabang yang berdaun dan tingginya bisa mencapai kurang lebih 90 cm. Daun sambiloto kecil-kecil berwarna hijau tua dan bunganya berwarna putih. Sambiloto juga dapat berkembang biak sepanjang tahun, dengan biji maupun dengan cara stek batang. Perbanyakan dengan stek batang juga relatif mudah dilakukan. Caranya, pilihlah batang yang agak tua yang memiliki daun sekitar 10 helai. Batang tersebut dipotong sepanjang kurang lebih 20 cm lalu ditancapkan ke tanah di tempat teduh. Hanya dalam waktu sekitar satu bulan, tanaman sambiloto sudah mulai di penuhi daun muda. Bagian yang biasa digunakan untuk obat tradisional adalah daunnya yang rasanya sangat pahit. Sebenarnya selain daunnya, batang, bunga dan bagian akar juga bermanfaat obat.Dari jaman dahulu kala hingga sekarang.Relief daun sambiloto ada di Candi Borobudur serta di Kitab Serat Rama dalam bahasa Jawa Kawi di sekitar abad 18. Disebutkan sambiloto berkhasiat untuk mengobati prajurit Hanoman yang terluka ketika perang melawan Rahwana.Di Indonesia, banyak orang mengenal sambiloto dari mbok jamu gendong, yang biasa disebut dengan nama jamu paitan. Seringkali orang mengkonsumsi cairan paitan yang warnanya kehitaman dari mbok jamu, dan kemudian pahitnya diusir dengan minum beras kencur. Campuran ini biasa dikenal untuk mengusir masuk angin.Selain membeli di jamu gendong, orang juga bisa mengkonsumsi sambiloto dengan cara merebus daunnya. Daun yang kering pun tidak kalah manfaatnya bahkan sekarang ada pula sambiloto dalam bentuk teh celup. Bagi yang tidak tahan dengan pahitnya, namun ingin mendapat khasiat istimewa sambiloto, dapat mengkonsumsi sambiloto dalam bentuk kapsul.Sejalan dengan trend “back to nature”, kalangan asing pun sudah banyak yang melirik khasiat sambiloto. Berbagai penelitian yang dilakukan baik di dalam maupun di luar negeri, menemukan bahwa di balik rasa pahit sambiloto, terkandung zat aktif androgapholid yang sangat bermanfaat untuk pengobatan. India juga sudah lama mengenal tanaman obat ini, bahkan sambiloto digunakan untuk memerangi epidemi flu di India pada tahun 1919 dan terbukti efektif sehingga sambiloto mendapat julukan the “Indian Echinacea”.Di Cina, sambiloto sudah di uji klinis dan terbukti berkhasiat sebagai anti hepapatoksik (anti penyakit hati). Di Jepang, sedang di jajaki kemungkinan untuk memakai sambiloto sebagai obat HIV, dan di Skandinavia, sambiloto di gunakan untuk mengatasi penyakit-penyakit infeksi.
DAUN SIRSAK ( Annona Muricata )
Daun sirsak mengandung banyak sekali senyawa ajaib yang sangat berkhasiat dan bermanfaat untuk kesehatan tubuh, diantaranya kandungan senyawa yang terdapat didalam daun sirsak itu seperti senyawa acetogenins, annohexocin, annonacin, annocatacin, annocatalin, annomuricin, anomurine, caclourine, gentisic acid, anonol, gigantetronin, linoleic acid, dan juga muricapentocin, yang mana semua senyawa itu fungsinya untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Kini khasiat daun sirsak makin terkuak dan ternyata daun sirsak ini sudah banyak sekali di jadikan dan di manfaatkan sebagai bahan untuk membuat obat tradisional untuk membantu mengatasi sekaligus menyembuhkan beragam jenis penyakit. Selain berkhasiat untuk mengobati beragam macam penyakit kanker, daun sirsak ini juga berkhasiat mampu untuk digunakan sebagai obat herbal HIV AIDS. Untuk mendapatkan khasiat dari daun sirsak juga sangat mudah, Anda dapat mengkonsumsi daun sirsak yang sudah di ekstrak menjadi obat herbal atau dengan merebus daun sirsak ini sendiri. Sebab, di negara Indonesia tanaman sirsak ini sangat gampang untuk tumbuh, sehingga kita ini tidak akan kesulitan untuk menemukannya.
BAWANG PUTIH ( Allium Sativum )
Bawang putih adalah tanaman umum dengan akar berwarna putih berbentuk umbi lapis, serupa dengan bawang merah. Nama ilmiah adalah Allium sativum, dan tanaman ini adalah bagian dari familia Liliaceae (Lili). Bawang putih dipakai baik untuk masakan maupun sebagai tanaman obat.Saat bawang putih segar dihancurkan atau dicincang, enzim dalam umbinya dilepas dan sebuah senyawa yang mengandung sulfur (belerang) bernama allicin dibuat. Senyawa yang mengandung sulfur ini sering menjadi antibiotik yang efektif.Bawang putih mungkin berasal dari Kirgiz, daerah padang pasir Siberia. Pujangga Cina 3000 tahun SM menguji manfaat bawang putih. Jadi, bawang putih mempunyai sejarah panjang dalam penggunaannya sebagai obat. Aristoteles menguji bawang putih pada tahun 335 SM untuk mutu pengobatan. Pada abad pertengahan, bawang putih telah dipikirkan sebagai pengobatan terhadap orang bertekanan darah tinggi, Sipilis Kencing nanah ,kehilangan nafsu makan, orang dengan masalah paru, gigitan ular, batuk rejan, dan kebotakan. Pendeta Prancis abad ke-17 makan bawang putih dalam jumlah besar untuk melawan wabah sampar, dan dilaporkan mereka bertahan hidup lebih lama daripada pendeta Inggris. Selama kedua perang dunia, tentara Rusia dan Jerman makan bawang putih sebagai pengobatan di medan pertempuran.
Mengapa ODHA Memakai Bawang Putih?
Bawang putih adalah satu-satunya antibiotik yg benar-benar dapat membunuh bakteri dan pada saat yg bersamaan melindungi tubuh dari racun yg menyebabkan infeksi.Sangat terkenal bahwa bakteri yg paling sensitif terhadap bawang Putih adalah bakteri mematikan Basilus Antracis yg menghasilkan racun Antrax. Bahkan Bapak Obat Antibiotik, LOUIS PASTEUR mengakui bahwa bawang putih sama efektifnya dgn penisilin.Darah seseorang yg mengkonsumsi bwang putih pun dpt membunuh bakteri dan telah dilaporkan bahwa Aroma dari potongan bawang putih dapat membunuh bakteri yg berjarak 20 sentimeter…!!! Subhanallah…Diantara penyakit yg dapat diobati dgn bawang putih adalah HIV AIDS. Bawang putih telah terbukti efektif dalam mengendalikan beberapa infeksi sekunder yg berhubungan dgn HIV AIDS dan menurut Duke,”Dapat menangkal HIV I dalam tubuh.”Saran bagi penderita HIV POSITIF, memakan 3-5 siung bawang putih setiap hari..saran ini datang dari direktur Immune Enhacement Project of Portland,Oregon, Amerika Serikat.

Sumber Rujukan : http://medherb.com/Therapeutics/Immune_-_Garlic_and_AIDS_.htm
Medical Herbalism: Clinical Articles and Case Studies
Search entire site by keyword(s)
Free electronic MH newsletter
Information on Distance Learning in Herbalism
Back to articles index page
Back to medherb.com
Immune – Garlic and AIDS
by Paul Bergner
Medical Herbalism 07-31-95 9(2/3): 17-18
Garlic appears to have a place in both in treating opportunistic infections and in improving the overall health of AIDS patients. Normally when a new AIDS therapy shows promise in a clinical trial, news spreads quickly in the media. This was unfortunately not the case after a dramatic, although small, trial of garlic for AIDS was reported at the International AIDS Conference in 1989. The researchers, who later published the information in Deutsche Zeitschrift Onkologie (German Journal of Oncology) gave an aged garlic preparation (Kyolic garlic) to ten patients with AIDS. All patients had severely low natural killer cell activity and abnormal helper-to-suppressor T-cell ratios — both of these are blood measurements of progressed AIDS, often indicating short life-expectancy. All patients also had opportunistic infections such as cryptosporidial diarrhea or herpes infections.The patients received the equivalent of two cloves a day (5 grams) for the first six weeks, and then the equivalent of four cloves (10 grams) for another six weeks. Three of the patients were too severely ill to complete the trial. They could not complete the garlic regimen, and died before the trial ended.

The results were dramatic, and had it been a pharmaceutical drug involved instead of garlic, no doubt the news would have spread rapidly in the media. Six of the seven who completed the trial had normal natural-killer cell activity within six weeks, and all seven had normal activity by the end of the twelve weeks. Natural killer cell activity is considered one of the most important indicators of the progression of AIDS. The helper-to-suppressor T-cell ratios returned to normal in three of the patients, improved in two, remained the same in one, and lowered in one.Just as important, the patients’ opportunistic infections also improved. Chronic diarrhea, candida infection, genital herpes, and a chronic sInus infection all improved. The patient with the chronic sinus infection had gained no relief from antibiotics during more than a year of treatment before the garlic trial.
Exactly why the garlic helped the patients so dramatically is not clearly understood. Garlic can affect the immune system in many ways. Garlic may have also strengthened immunity in these patients by helping to fight the opportunistic infections, and thus reducing the load on the immune system. Various trials have shown garlic to be effective against cryptococcus, cryptosporidia, herpes, mycobacteria, and pneumocystis — all common infectious agents in AIDS. Researchers have also recently found evidence that the garlic constituent ajoene may directly interfere with the spread of the HIV virus in AIDS patients.
This trial was small, with only seven patients completing it, and follow up studies are necessary to prove that garlic will really help AIDS patients. News of the trial spread like wildfire in the community of people with AIDS, however, and many patients now take garlic regularly. One study in 1993 found that nearly 10% of AIDS patients surveyed took garlic supplements in addition to the other medications they were taking.
Copyright 2001 Paul Bergner203

Medical Herbalism: Clinical Articles and Case Studies
Garlic is used routinely in the Healing Aids Research Project at Bastyr University in Seattle. This is one of the few medical centers doing formal research into natural treatments of AIDS. Dr. Jane Guiltinan, medical director of the clinic where the research is done, suggests that all AIDS patient who can tolerate garlic should take it. “I most often prescribe garlic in food form rather than capsules or extracts,” says Guiltinan. “I have them eat as much as possible, either raw or cooked.”Garlic is also an important part of the AIDS protocol at the Immune Enhancement Project (IEP)in Portland, Oregon, a clinic that treats about 140 AIDS patients each month. Doctors at the clinic treat the patients with acupuncture, Chinese massage, diet, and modified Chinese herbal formulas in a protocol followed in AIDS clinics in three other cities in the U.S. The main herbal therapy at the clinics for opportunistic infections is garlic. Dr. Subhuti Dharmananda, director of the project, recently published a scientific review of garlic entitled “Garlic As The Central Herb Therapy for AIDS.” AIDS patients at the IEP are encouraged to take 3-5 cloves of garlic a day to prevent the secondary infections in AIDS. If they already have the infections, they take that dose three times a day. Garlic is also given in other forms, such as retention enemas and skin washes, for certain conditions. They take the cloves cut up with lemon juice and honey, or in any other carrier than makes it more palatable. Dharmananda says that garlic probably does not effect the HIV infection itself, but treats the secondary infections that cause the most serious symptoms of AIDS.AIDS patients might take garlic in any of its oral forms, use garlic poultices, compresses, or oil for skin afflictions, enemas for anal infections, or steams or chest applications for sinus or bronchial problems.

References
Abdullah T, Kirkpatrick DV, Williams L, Carter J. “Garlic as an antimicrobial and Immune modulator in AIDS.” Int Conf AIDS. 1989 Jun 4-9;5:466 (abstract no. Th.B.P.304).
Abdullah TH, Kirkpatrick DV, Carter J “Enhancement of natural killer cell activity in AIDS with garlic. Dtsch Zsohr Onkol 1989;21:52-53
Delaha EC, Garagusi VL Inhibition of mycobacteria by garlic extract (Allium sativum). Antimicrob Agents Chemother 1985;27(4):485-486
Deshpande RG, Khan MB, Bhat DA, Navalkar RG. “inhibition of Mycobacterium avium complex isolates from AIDS patients by garlic (Allium sativum).” J Antimicrob Chemother 1993 Oct;32(4):623-6
Fronting RA, Bulmer GS. “In vitro effect of aqueous extract of garlic on the growth and viability of Cryptococcus neoformans. Mycopathologia 1978;70:387-405
Gowen SL, Erskine D, McAskill R, Hawkins D. “An assessment of the usage of non-prescribed medication by HIV positive patients.”
Int Conf AIDS. 1993 Jun 6-11;9(1):497 (abstract no. PO-B29-2174).
Copyright 2001 Paul Bergner 204

Medical Herbalism: Clinical Articles and Case Studies
Hunan Medical College of China. “Garlic in cryptococcal meningitis: A preliminary report of 21 cases. Chin Med J 93:123, 1980
Rao RR et al. “Inhibition of Mycobacterium tuberculosis by garlic extract.’ Nature 157, 1946
Standish L, Guiltinan J, McMahon E, Lindstrom C. “One-year open trial of naturopathic treatment of HIV infection class IV-A in men.” J Naturopath Med 1992; 3(1):42-64
Tatarintsev AV, Vrzhets PV, Ershov DE. “The ajoene blockade of integrin-dependent processes in an HIV-infected cell system. Vestn Ross Akad Med Nauk 1992;(11-12):8-10
Tatarintsev A, Makarova T, Karamov E, et al. “Ajoene blocks HIV-mediated syncytia formation: possible approach to `anti-adhesion’ therapy of AIDS.” Int Conf AIDS. 1992 Jul 19-24;8(3):39 (abstract no. PuA 8173).
Tsai Y et.al “Antiviral properties of garlic: in vitro effects on influenza B, herpes simplex I, and coxsackie viruses.’ Plants Medics 1985:5:460-461

Rujukan 2 :- http://www.advance-health.com/garlic.html
Plants do not have immune systems to defend themselves against the bacteria, fungi, viruses and yeasts that attack them. Their defense is direct chemical warfare. Their weapons are antibiotics, antivirals and fungicides that they manufacture internally. Their success is demonstrated by the fact that you see healthy growing plants everywhere.
In the case of garlic, one of the main active ingredients is a thiosulfinate compound called allicin. The manufacture of allicin is triggered by the release of enzymes by breaking the cell walls of the garlic plant. Allicin is the pungent, hot, stinky stuff that makes garlic special. In addition to allicin, garlic contains over 100 other beneficial nutrients. These include beta-carotene, folate, beta-sitosterol, ferulic acid, geraniol, oleanolic acid, P-coumaric acid, rutin, quercetin, thiamine, niacin, vitamin c, cysteine, zinc, calcium, magnesium, manganese, selenium, and others.

Garlic is an Anti-biotic and Anti-viral
In vitro (in laboratory cultures) studies demonstrate that garlic has antibacterial, antiviral, and antifungal activity. In one Clinical study, one capsule daily of an allicin-containing garlic supplement was tested on a group of 146 volunteers (Josling P 2001). Over several months half the group received the garlic while the other half got a placebo. The placebo group had 63 percent more common cold infections than the garlic group. In addition, those in the garlic group who did catch a cold had symptoms for an average of only 1.52 days, compared with 5.01 days for the placebo group. The doctors who conducted this garlic study concluded, “An allicin-containing supplement can prevent attack by the common cold virus.”

Garlic in Herpes Virus Infections
While garlic has demonstrated in vitro anti-viral activity against many viruses including HSV-1 and HSV-2, clinical trials on humans have not been performed. Garlic’s in vitro success against these viruses and its demonstrated in vivo effectiveness against the common cold virus suggests that it may be effective against the herpes viruses in humans as well. However, this hypothesis has not been clinically tested and, until it is, such claims cannot be made.

Garlic Lowers Blood Pressure
There is some evidence that garlic is mildly hypotensive in humans. Researchers at the University of Mississippi and in Turkey performed clinical tests on the effectiveness of garlic in reducing blood pressure. They found that garlic reduced systolic blood pressure by at least 9 mmHg and diastolic blood pressure by at least 5 mmHg. The effect was most noted in subjects with high blood pressure and high cholesterol. No hypotensive effect was observed in patients with normal blood pressure.

Garlic for Lowering Cholesterol
There is contradictory evidence as to whether garlic actually lowers cholesterol and triglyceride levels or not. The contradictions appear to arise from the use of different dosages, forms of garlic and other procedural differences. However, most findings showed that garlic slightly lowered blood cholesterol, LDL cholesterol and triglycerides with a consistent lowering of blood lipids seen in studies that used aged garlic extract (kyolic) as the supplement.Research has demonstrated that garlic inhibits the peroxidation of lipids. This, in turn, prevents LDL cholesterol from being oxidized into harmful compounds. Garlic also lowers homocysteine levels. Recent research has identified homocysteine as a major culprit in heart disease, osteoporosis, alzheimers and several other degenerative diseases.

Garlic in Atherosclerosis
Garlic reduces platelet aggregation, thrombin formation, platelet adhesion to fibrinogen and the risk of thrombosis. Garlic’s effects are attributed to allicin, ajoene, and other organosulfur constituents in the herb. A recent study on garlic confirms that it exhibits powerful fibrinolytic activity both in vitro and in vivo. In this study, it acted as an anticoagulant by downregulating thrombin formation. These effects reduce the formation of atherosclerotic plaque.In one study, patients with atherosclerosis had higher plasma levels of the oxidant MDA ( malondialdehyde ) and lower plasma levels of the antioxidant enzyme glutathione peroxidase compared to the control group. However, those patients who consumed 1 ml/kg of garlic extract had significantly lowered MDA levels even in the absence of changes in antioxidant enzyme activities. In addition, the researchers found the presence of oxidant stress in blood samples from atherosclerosis patients, but ingesting garlic extract prevented oxidation reactions by eliminating this oxidant stress.

Garlic and Men’s Health
Garlic may reduce the risk of prostate cancer, according to a recent study. Researchers surveyed 238 men with prostate cancer and 471 healthy controls in Shanghai, China to determine their eating habits. The risk of prostate cancer declined by more than 33 percent in men who consumed small amounts of onions, garlic, scallions, shallots and leeks each day. Men who consumed 2 grams of garlic daily experienced a 50 percent decease in prostate cancer risk.Another study done with rats demonstrated that garlic supplementation in combination with a high protein diet increased testosterone levels.

Anti-Cancer Properties of Garlic
Modern epidemiological studies, well correlated with laboratory investigations, corroborate the evidence that higher intake of garlic and its relatives is correlated with reduced risk of several cancers. The mechanisms proposed to explain the cancer-preventive effects of garlic include inhibition of tumor mutagenesis, modulation of enzyme activities, and effects on cell proliferation and tumor growth. Several garlic compounds, including allicin, induce apoptosis (programmed cell death) in various malignant human cells. These include breast, colorectal, hepatic, prostate, and lymphoma cells. A growing number of clinical studies are examining the properties of ajoene, one of the major components of purified garlic. Researchers are investigating ajoene in part because it is more chemically stable than allicin. The list of cancers responding to garlic treatment or supplementation continues to grow.

Garlic Dosage
People who wish to consume garlic and have no aversion to its odor can chew from one to two whole cloves of raw garlic daily. In certain regions of China up to eight cloves of raw garlic are consumed per day. For those who prefer it with less odor, enteric-coated tablets or capsules with approximately 1.3% allacin are available. Clinical trials have used 600-900 mg (delivering approximately 5-6 mg of allicin ) per day in two or three divided amounts. Aged-garlic extracts have been studied in amounts ranging from 2.4-7.2 grams per day.

Garlic Side Effects and Drug Interactions
Garlic has anti-coagulant properties. Anyone with a bleeding disorder or taking anti-coagulant or anti-platlett medications should consult their doctor before consuming garlic. Examples of such medications include indomethacin, dipyridamole, and aspirin. Anyone anticipating surgery, child birth, etc. should avoid garlic.Garlic may lower blood sugar considerably and may potentize the effect of certain anti-diabetic medications. Medications from this class include chlorpropamide, glimepiride, and glyburide. When using garlic with these medications, blood sugars must be followed closely and garlic use should be used under your doctor’s advise.
Garlic may reduce blood levels of protease inhibitors. Protease Inhibitors are a class of drugs used to treat people with the human immunodeficiency virus (HIV). They include indinavir, ritinavir, and saquinavir.
It is hhypothesized by some that garlic may behave similarly to a class of cholesterol lowering medications called statins and to a class of blood pressure lowering medications called ACE inhibitors. Examples of these medications include atorvastatin, pravastatin, lovastatin, enalapril, captopril, and lisinopril. Possible interactions with these medications has not been tested.Other side effects from garlic may include upset stomach, bloating, bad breath, and body odor. Garlic is considered to have very low toxicity and is listed as Generally Recognized as Safe (GRAS) by the Food and Drug Administration (FDA) of the United States.
More research with better-designed studies is needed in order to fully assess the safety and effectiveness of garlic and to determine the most appropriate dose and form.

SARANG SEMUT ( Myrmecodia )
Ahli Pengobatan Tradisional dr Ria Anindita mengatakan pada orang yang sehat, sel-sel T penolong merangsang atau mengaktifkan sistem kekebalan untuk menyerang infeksi.”HIV khususnya mengincar sel-sel T penolong ini. Ia menggunakan sel-sel itu untuk memperbanyak dirinya (replikasi). Melemahkan dan menghancurkan sel-sel T penolong hingga sistem kekebalan merosot drastis,” jelasnya.Obat anti-retrovirus (ARV) menghambat proses replikasi ini. Saat ini ada empat jenis utama ARV yang diresepkan. Analog nukleosida dan analog nonnukleosida mencegah HIV menggandakan diri ke dalam DNA seseorang. Inhibitor protease membuat enzim protease tertentu dalam sel yang terinfeksi tidak dapat menggandakan virus itu dan menghasilkan lebih banyak HIV.Inhibitor fusi bertujuan mencegah HIV memasuki sel. Dengan menghambat replikasi HIV, ARV dapat memperlambat perkembangan dari infeksi HIV menjadi AIDS, yang disebut stadium akhir penyakit HIV. “Namun untuk penggunaan Obat anti-retrovirus ini tidak semua cocok untuk penderita HIV, maka sebaiknya di konsultasikan terlebih dahulu kedokter,” ungkapnya.Selain obat ARV, bagi penderita HIV juga dapat mencoba pengobatan herbal, salah satu herbal yang dapat membantu menghambat perkembangan HIV adalah Sarang Semut.Kandungan flavonoid yang terdapat dalam Sarang Semut telah terbukti dapat merangsang perkembangan antibodi dan flavonoid ini berperan langsung sebagai antibiotik.Dengan mengganggu fungsi dari mikroorganisme seperti bakteri dan virus termasuk virus HIV AIDS. Namun perlu diketahui bahwa Sarang Semut adalah salah satu obat yang bersifat herbal.”Dalam penyembuhan suatu penyakit tentu akan membutuhkan waktu tidak secara instan,” ujarnya.Kabar baik lainnya tentang pengobatan HIV-AIDS justru datang dari lebah. Lebah umum dikenal sebagai hewan yang menghasilkan madu yang digunakan sebagai penambah energi, antibodi, dan beberapa manfaat lain bagi kesehatan. Baru-baru ini, Pusat Studi Perlebahan Lembaga Penyakit Tropis Universitas Airlangga (LPT Unair), Surabaya, melakukan uji klinis atas manfaat propolis lebah bagi kesembuhan pasien HIV/AIDS.”Propolis merupakan air liur yang dihasilkan oleh lebah,” jelasnya.Dari hasil studi dan uji coba terapi propolis atau air liur digabung dengan racun lebah terhadap pasien HIV/AIDS, ditemukan bahwa racun yang dihasilkan lebah memang tidak menghancurkan virus. Racun itu menembus dinding virus yang membuat virus mengecil yang kemudian hilang.
MADU PROPOLIS ( MADU FERMENTASI DENATURE )
Propolis merupakan substrar getah dari tunas daun dan kulit batang tanaman Coniter (golongan pinus) yang dikumpulkan lebah madu. Lebah kemudian berusaha mencampur dengan zat yang disekresi kelenjar air lebah. Propolis membuat sarang lebah menjadi steril dan terhindar dari pengaruh bakteri, virus dan jamur. Propolis dan bee pollen memiliki flavonoid dan berbagai senyawa phenolic dalam kadar tinggi, memiliki efek anti inflamasi dan anti oksidan.Propolis mengandung 55% resin, 30% lilin lebah, 10% berbagai minyak aromatik, 5% bee pollen. Asam amino esensial yang terkandung dalam propolis penting untuk regenerasi sel. Propolis juga mengandung semua mineral kecuali sulfur, mengadung semua vitamin kecuali vitamin K. Juga mengandung bioflavonoid suatu anti oksidan dan suplemen sel. Pada pasien HIV/AIDS propolis bermafaat sehubungan dengan efek anti inflamasi, anti oksidan, antimikroba, serta regenerasi sel sehingga penting dalam upaya mencegah masuknya mikroorganisme pemicu infeksi sekunder. Pada pasien HIV sistem imun tertekan, ditandai oleh semakin menurunnya jumlah CD4 pada awalnya secara graduil. Defisiensi mineral pendukung sistem imun mempercepat penurunan kekebalan tubuh ditandai oleh penurunan CD4 yang berlangsung progresif. Punurunan dibawah 200 sel per mm3 berpotensi memunculkan berbagai macam infeksi sekunder yang mendorong terjadi penggeseran dari HIV ke AIDS.Lipase berguna dalam membantu enzim pencernakan sehingga cepat menghancurkan makanan komponen lemak sehingga mengurangi potensi gangguan rasa nyaman di saluran cerna, rasa mudah penuh, kembung, sari makanan mudah diserap usus.Madu dengan berbagai komponen tersebut bermanfaat untuk dikonsumsi pasien HIV/AIDS. Pada orang dewasa konsumsi madu ideal 100-200 g per hari. Bagi pasien HIV/AIDS terutama yang disertai sindrom wasting kebutuhan meningkat menjadi sekitar 400 g per hari. Konsumsi madu secara teratur akan dapat meningkatkan berat badan, menambah masa otot, meningkatkan status imun, meredam pengaruh negatif radikal bebas, serta meningkatkan kualitas hidup pasien HIV/AIDS.Sejak dahulu madu sudah dikenal sebagai obat. Madu merupakan produk yang tersimpan rapi dalam perut madu lebah yang di dalam Al- Qur’an (An-Nahl: 68-69): Dan Tuhanmu mengilhamkan kepada lebah, ”Buatlah sarang di gunung-gunung, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. Kemudian makanlah dari segala (macam) buah-buahan lalu tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu)”. Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir. Pasien HIV/AIDS yang mengkonsumsi madu secara teratur akan tampil lebih bugar, bersemangat dan penuh vitalitas. Hal tersebut terkait berbagai komponen yang terkandung dalam madu sangat bermanfaat bagi stamina dan membangun energi. Kini madu menarik perhatian para pakar kesehatan, termasuk para praktisi infeksi HIV/AIDS.
SENTUHAN RELIGI PADA PASIEN HIV
Pasien HIV perlu melalui lima tahapan untuk dapat menerima penyakit ini. Tahapan tersebut penolakan (denial), marah (angry), depresi (depression), persetujuan dan mulai menerima (bargain), dan akhirnya dapat menerima (accepted) penyakit HIV tersebut menghinggapi dirinya. Pada tahap awal, pasien yang kurang kuat landasan religi cenderung mengambil jalan pintas yaitu bunuh diri atau berusaha menularkan ke orang lain. Jalan pintas tersebuat terjadi akibat sempitnya cara pandang, terbatasnya pemahaman infeksi HIV dan ”hatinya beku”. Padahal hati itu seharusnya di arahkan dan di manfaatkan untuk bertafakkur, berdzikir, dan untuk menerima nasihat. Perlu dihayati bahwa respon akal manusia akan diteruskan ke hati, selanjutnya dari hati akan diteruskan ke nurani, dari nurani akan diteruskan ke fana, dari fana akan diteruskan ke wujud.Pasien HIV perlu mendapatkan pendampingan berlandaskan religi agar mampu memandang lahiriah dengan mata kepala, memandang keadaan batiniah dengan mata hati, dan dengan nuraninya pada saatnya dapat memandang Allah swt. Pendampingan perlu menekankan dan meyakinkan bahwa meski dalam keadaan sakit terinfeksi HIV terkendali, iklas dan akan patuh dan setuju dengan keputusan Allah swt sebagai batu ujian. Pasien pada tahap selanjutnya mampu bergerak dan berjalan menurut kehendak takdir, mampu mendekat kepada Allah swt dan tidak tertutup kemungkinan menjadi pribadi mulia yang dilayani dan ditaati para sahabat dan orang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA). Semua ini bila berhasil merupakan buah dari kesedihannya begitu dinyatakan terinfeksi HIV, kemudian bermujahadah melawan kebiasaan buruk melibatkan nafsu, keinginan, watak, kebiasaan, syaitan, dan rekanan masa lalu yang membawa ke jurang kehancuran sebelumnya.

Demikianlah artikel sederhana mengenai TERAPHY HIV HERBAL TRADISIONAL ini saya persembahkan , semoga bermanfaat serta dapat menambah pengetahuan mengenai HIV AIDS. Jika Anda beresiko, segeralah lakukan tes VCT. Mengetahui status HIV sedini mungkin bisa menolong Anda untuk bisa bertahan hidup lebih lama. Ingat di vonis HIV bukan berarti vonis mati. Anda masih bisa hidup layaknya orang sehat pada umumnya.

Disclaimer : Hasil tiap individu mungkin bisa berbeda-beda Kami berusaha menginformasikan produk kami dan hasil yang bisa diperoleh dengan wajar dan tidak berlebihan. Visit www.obatherbalwasirmanjur.com